Widget HTML #1

FOMO Nyobain Vibe Coding, Bikin Web App CV Builder Jadi Calon Ladang Cuan

Belakangan ini saya cukup sering melihat iklan tentang AI coding atau yang sekarang lebih populer disebut vibe coding di Facebook.

Awalnya cuma lewat begitu saja.

Tapi lama-lama muncul rasa penasaran juga.

Bagaimana mungkin sekarang orang yang tidak terlalu jago coding bisa membuat aplikasi hanya dengan ngobrol menggunakan AI?

Saya kemudian sering melihat iklan Emergent di Facebook. Konsepnya cukup menarik karena kita tinggal menjelaskan aplikasi yang ingin dibuat, kemudian AI membantu membangun aplikasi tersebut.

Di sisi lain, saya juga menemukan VibeCoder.co.id yang menawarkan konsep serupa dan menurut saya lebih menarik untuk dicoba dari sisi harga awalnya.

Akhirnya muncul pikiran:

"Daripada cuma lihat iklan, kenapa nggak coba bikin satu aplikasi sekalian?"

Dari situlah proyek MiraCV bermula.

Awalnya Cuma Iseng

Saya sebenarnya tidak punya rencana serius untuk membuat sebuah web app CV Builder.

Awalnya benar-benar karena penasaran.

Selama ini kalau ingin membuat website, saya lebih sering menggunakan platform yang sudah jadi seperti Blogger. Kalau ingin membuat aplikasi yang punya form, database, sistem kredit, template CV, pembuatan PDF, dan berbagai fungsi lainnya, ceritanya tentu berbeda.

Biasanya sudah masuk wilayah programmer.

Nah, vibe coding ini menawarkan pendekatan yang berbeda.

Kita tidak harus menulis kode dari baris pertama. Cukup menjelaskan apa yang ingin dibuat, kemudian AI coding agent mencoba menerjemahkan instruksi tersebut menjadi aplikasi.

Karena penasaran, akhirnya saya daftar VibeCoder.

Kenapa Pilih VibeCoder?

Salah satu alasan saya mencoba VibeCoder.co.id adalah karena harganya terasa relatif lebih murah untuk eksperimen awal.

Jadi konsepnya kira-kira:

Punya ide → ceritakan ke AI → AI coding → tes → perbaiki → deploy.

Kelihatannya simpel.

Dan karena saya memang ingin tahu seberapa jauh AI bisa membantu membuat aplikasi, akhirnya saya coba.

Ekspektasi Awalnya: Modal Rp100 Ribuan Sudah Jadi

Nah, di sinilah bagian yang ternyata sedikit berbeda dari ekspektasi awal.

Dalam pikiran saya waktu itu kira-kira:

"Ah, wah bener nih Rp100 ribu sudah bisa bikin satu web app?"

Maklum, namanya juga baru coba. Dan karena iklannya juga sepertinya menggiring opini kesitu, tidak menjelaskan ternyata setiap prompt akan mengurangi kredit.

Saya membayangkan tinggal memberikan prompt yang cukup lengkap, AI membuat aplikasinya, kemudian tinggal sedikit diperbaiki dan langsung online.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Biaya penggunaan AI coding ternyata sangat bergantung pada proses pengembangan dan seberapa banyak kita berinteraksi dengan AI.

Semakin banyak fitur yang ingin dibuat, semakin banyak revisi, debugging, perubahan desain, dan permintaan tambahan yang harus dilakukan.

Jadi bukan sekadar:

Satu aplikasi = satu kali bayar.

Justru prosesnya lebih mirip seperti sedang bekerja dengan seorang developer yang sangat cepat, tetapi setiap pekerjaan tetap membutuhkan resource.

Sempat Bingung: Lanjut atau Berhenti?

Ketika MiraCV baru sekitar setengah jalan, saya mulai berpikir:

"Ini diterusin nggak, ya?"

Karena ternyata biaya yang keluar mulai lebih besar dari perkiraan awal.

Kalau dari awal saya tahu akan membutuhkan ratusan ribu rupiah sampai aplikasi bisa benar-benar digunakan, mungkin saya akan berpikir lebih matang.

Tapi di sisi lain, proyeknya sudah berjalan.

Fitur dasar sudah mulai terbentuk. Tampilan sudah ada. CV Builder sudah mulai bisa digunakan.

Dan yang paling penting, saya mulai melihat bahwa ide ini sebenarnya cukup menarik.

Akhirnya saya memutuskan untuk lanjut.

Dari Rp100 Ribuan Jadi Sekitar Rp800 Ribuan

Setelah melalui proses pengembangan, revisi, testing, perbaikan bug, dan menambahkan berbagai fitur, total yang saya keluarkan untuk eksperimen ini akhirnya sekitar Rp800 ribuan.

Jauh dari bayangan awal saya yang hanya sekitar Rp100 ribu.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, angka tersebut bukan semata-mata biaya untuk "membeli sebuah website".

Saya menganggapnya sebagai biaya belajar dan eksperimen.

Saya jadi tahu bagaimana AI coding bekerja.

Saya jadi tahu bahwa membuat aplikasi ternyata bukan hanya soal menghasilkan tampilan.

Ada database. Ada logic. Ada authentication. Ada PDF generation. Ada sistem kredit. Ada responsive design. Ada error. Ada bug. Ada revisi.

Dan semuanya saling berkaitan.

MiraCV Akhirnya Bisa Launch

Setelah cukup lama bolak-balik memberikan prompt, mencoba fitur, memperbaiki tampilan dan melakukan testing, akhirnya MiraCV bisa juga diluncurkan.

Memang belum sempurna.

Masih ada beberapa hal yang ingin diperbaiki.

Tetapi setidaknya sekarang sudah menjadi produk yang benar-benar bisa digunakan, bukan lagi sekadar ide yang hanya ada di kepala.

MiraCV saya buat sebagai CV Builder untuk pekerja Indonesia, terutama Domestic Helper dan Company Worker yang membutuhkan CV berbahasa Inggris untuk pekerjaan di Macau.

Konsepnya cukup sederhana.

Pengguna mengisi data pengalaman kerja dan informasi lainnya, kemudian data tersebut disusun menjadi CV dengan template yang sudah disiapkan.

Tujuannya adalah membuat proses pembuatan CV menjadi lebih mudah bagi orang yang mungkin tidak terbiasa menggunakan aplikasi desain.

Dari Web App, Saya Kepikiran Bikin Bisnis

Nah, setelah aplikasinya jadi, muncul masalah baru.

Kalau sudah jadi, siapa yang akan menggunakan?

Membuat aplikasi ternyata baru separuh perjalanan.

Separuh lainnya adalah mencari pengguna.

Dari sini saya mulai berpikir bahwa MiraCV jangan hanya menjadi sebuah aplikasi, tetapi harus punya ekosistem konten sendiri.

Akhirnya saya membuat website MiraCV.my.id.

Website ini saya gunakan sebagai blog sekaligus media promosi untuk web app MiraCV.

Menariknya, biaya untuk bagian ini justru jauh lebih kecil.

Saya hanya perlu membeli domain dengan biaya sekitar Rp3 ribuan karena mendapatkan harga promo, sedangkan hostingnya menggunakan Blogger yang gratis.

Jadi kalau web app-nya membutuhkan biaya ratusan ribu untuk pengembangan, bagian blog marketing-nya justru bisa dibuat dengan biaya yang sangat murah.

Mulai Membuat Konten untuk Mendatangkan Pengunjung

Setelah blog dibuat, saya mulai membuat artikel yang memang berhubungan dengan kebutuhan target pengguna.

  • Contoh CV Domestic Helper
  • Contoh CV Company Worker
  • Contoh CV Dishwasher
  • Contoh CV Waiter/Waitress
  • Contoh CV Cleaner
  • Job Description Domestic Helper
  • Skills untuk CV Domestic Helper
  • Work Experience untuk CV
  • Personal Profile CV

Tujuannya bukan hanya mendapatkan trafik dari Google.

Saya juga ingin artikel-artikel tersebut benar-benar membantu orang yang sedang mencari referensi CV.

Misalnya seseorang mencari "contoh CV dishwasher bahasa Inggris". Dia bisa menemukan artikel yang memberikan contoh CV sekaligus mendapatkan informasi mengenai bagaimana pengalaman kerja dishwasher bisa ditulis dalam bahasa Inggris.

Salah satu contoh artikel yang sudah dibuat adalah contoh CV Dishwasher dalam bahasa Inggris.

Mulai dari Blog, Facebook, Sampai TikTok

Supaya MiraCV tidak hanya bergantung pada Google, saya juga mulai membuat beberapa channel promosi.

Salah satunya adalah Facebook Page.

Facebook Page MiraCV

Facebook saya siapkan karena ke depannya saya ingin mencoba Meta Ads untuk melihat apakah orang benar-benar tertarik menggunakan layanan ini.

Saya juga membuat akun TikTok @miracvmacau.

Rencananya, TikTok akan digunakan untuk membuat konten pendek seputar:

  • Tips membuat CV
  • Contoh job description
  • Kesalahan dalam CV
  • Tips kerja di Macau
  • Contoh CV berdasarkan pekerjaan
  • Tutorial menggunakan MiraCV

Jadi saya mencoba membangun beberapa sumber trafik sekaligus.

Apakah Ini Benar-Benar Bisa Jadi Ladang Cuan?

Ini bagian yang masih harus dibuktikan.

Saya menyebutnya calon ladang cuan, bukan langsung mengatakan sudah menjadi ladang cuan.

Karena sampai sebuah aplikasi benar-benar menghasilkan uang secara konsisten, semuanya masih berupa eksperimen.

MiraCV sendiri menggunakan konsep monetisasi berbasis credit.

Jadi pengguna tidak harus berlangganan setiap bulan.

Mereka bisa membeli credit untuk membuat CV dan mendapatkan credit tambahan untuk revisi CV tersebut.

Model seperti ini menurut saya lebih masuk akal untuk target pengguna yang mungkin hanya membutuhkan CV ketika sedang mencari pekerjaan.

Tentu saja apakah model ini berhasil atau tidak masih harus diuji.

Dan menurut saya justru bagian inilah yang paling menarik.

Dari FOMO Jadi Eksperimen Bisnis

Kalau dipikir-pikir, semuanya sebenarnya bermula dari hal yang sangat sederhana.

FOMO.

Sering melihat iklan AI coding di Facebook.

Penasaran.

Coba daftar.

Mulai membuat aplikasi.

Sempat berhenti karena biaya mulai membesar.

Kemudian memutuskan lanjut.

Sampai akhirnya punya sebuah web app yang benar-benar online.

Setelah itu muncul pekerjaan baru: membuat website, menulis artikel, membuat Facebook Page, membuat TikTok, belajar SEO, memikirkan Meta Ads, sampai memikirkan model bisnisnya.

Jadi ternyata membuat aplikasi adalah bagian paling awal dari perjalanan.

Setelah aplikasinya jadi, justru pekerjaan sebenarnya baru dimulai.

Apakah Saya Menyesal Mengeluarkan Rp800 Ribuan?

Kalau ditanya apakah menyesal?

Untuk saat ini, tidak.

Walaupun MiraCV belum sempurna dan belum tahu akan menghasilkan berapa, saya mendapatkan sesuatu yang menurut saya cukup berharga: pengalaman.

Dulu kalau punya ide aplikasi, mungkin pikiran pertama adalah:

"Wah, harus cari programmer."

Sekarang saya jadi berpikir:

"Coba dulu bikin prototype dengan AI."

Bukan berarti programmer sudah tidak dibutuhkan.

Untuk aplikasi yang kompleks, keamanan tinggi, traffic besar, atau kebutuhan khusus, tentu saja kemampuan developer tetap sangat penting.

Tetapi untuk menguji sebuah ide, vibe coding membuat hambatan awal menjadi jauh lebih rendah.

Kita bisa membuat prototype, mencoba apakah idenya masuk akal, kemudian baru memutuskan apakah layak dikembangkan lebih serius.

Dari Satu Ide Bisa Lahir Banyak Eksperimen

MiraCV mungkin bukan proyek terakhir.

Justru setelah mencoba membuat web app dengan AI, saya mulai melihat bahwa banyak ide kecil yang sebelumnya terasa terlalu sulit untuk diwujudkan sekarang bisa dicoba dengan biaya dan waktu yang relatif lebih rendah.

Mungkin tidak semuanya akan berhasil.

Mungkin sebagian hanya akan menjadi eksperimen.

Dan mungkin ada satu atau dua yang akhirnya benar-benar menjadi bisnis.

Menurut saya, itu bagian menarik dari perkembangan AI sekarang.

Bukan berarti semua orang tiba-tiba menjadi programmer.

Tetapi jarak antara punya ide dan mencoba mewujudkan ide tersebut menjadi lebih pendek.

Untuk saya sendiri, MiraCV menjadi salah satu eksperimen pertama yang cukup serius.

Dari awalnya cuma:

"Iseng nyoba vibe coding."

berubah menjadi:

"Ternyata sekarang saya punya web app sendiri."

Dan sekarang tinggal mencari tahu satu hal berikutnya:

Apakah web app tersebut bisa benar-benar menjadi bisnis?

Posting Komentar untuk "FOMO Nyobain Vibe Coding, Bikin Web App CV Builder Jadi Calon Ladang Cuan"