Share Biaya Liburan Solo Trip Backpacker ke Eropa Barat dan Dubai

My First Solo Trip (Jalan-jalan sendirian) - West Europe + Dubai

Halo,
Saya mau share trip ke West Europe beberapa waktu yang lalu tepatnya Tanggal 20-30 September 2019.  Serta akan share review beberapa penginapan, transportasi, kurs, dll. Semoga bisa bermanfaat, terutama bagi yang sedang memantapkan hati untuk memulai solo trip pertamanya. Mohon maaf panjang banget karena copy dari catatan pribadi belum sempat edit.


Ini adalah pengalaman solo travelling pertama saya sekaligus pertama kali mengunjungi Eropa. Trip ini begitu berarti bagi saya, bisa dikatakan sebagai salah satu milestone dalam hidup saya, karena saya akhirnya berani keluar dari zona nyaman saya, berani melakukan hal yang selama ini saya kira saya tidak bisa melakukannya *lebay 🤣

Bagaimana rasanya solo trip pertama kali? Hmm, jujur saja saya sangat menyesal. Iya menyesal kenapa baru berani melakukannya sekarang, kenapa enggak dari 4 atau 5 tahun yang lalu.. tapi masih lebih baik menyesal karena terlambat daripada menyesal karena tidak pernah memulainya sama sekali.

Ternyata solo traveling tidak semenakutkan seperti yang ada di pikiran saya selama ini.

Trip ini berawal dari godaan promo tiket gledek dari tiket.com beberapa bulan yang lalu. Tanpa sengaja, ter-issued-lah tiket pp CGK-AMS dengan maskapai Emirates 🤓

Apakah dari awal saya langsung yakin dan pede untuk melakukan solo travelling? Oh tentu saja tidak. Saya pun melalui pergulatan batin yang hebat, serta kegalauan tingkat tinggi, makan gak enak tidur gak nyenyak pikiran gak tenang 😤😁  Bagaimana tidak.., saya orang ndeso yang masih sangat awam tentang travelling apalagi ke luar negeri.

Pengalaman travelling ke luar negeri saya minim banget, hanya pernah ke Negara tetangga, itupun sudah lebih dari 5 tahun yang lalu, perginya rame-rame sama teman-teman dan saya Cuma ngintilin mereka, gak ikut nyiapin apa-apa mulai dari itin, hotel transport, dll saya terima beres ngikut kemana mereka pergi.

Apalagi Eropa… ahh dulu saya bermimpi kesana pun tidak berani, karena saat itu rasanya sepertinya mustahil bisa kesana, sendirian pula.. Faktor lain yang menambah keraguan saya yaitu bahasa, iya kemampuan bahasa Inggris saya kacau banget, mungkin kalau disandingin sama anak SD saya kalah telak, kemampuan navigasi saya juga jelek, dan saya awam dengan public transport dengan banyak jalur, maklum di kampung saya adanya Cuma angkot tanpa trayek.

Sebenarnya keputusan untuk solo travelling ini baru saya buat sekitar sebulan sebelum keberangkatan, walaupun tiket sudah dibeli sejak bulan maret. Karena pada awalnya saya tidak berencana pergi sendiri melainkan berdua bersama teman, namun karena sesuatu hal kita tidak jadi pergi bareng.

Awalnya sempat menyerah mau batalin trip ini karena benar-benar gak pede rasanya.. tapi sayang juga kalo tiketnya hangus, karena tiketnya promo gak bisa refund sama sekali.

Terima kasih banyak kepada teman-teman di grup ini, karena grup ini (Backpacker Internasional) akhirnya saya berani melakukan Solo trip pertama ini. Iya, sangat banyak informasi bermanfaat yang saya dapat dari grup ini, bukan Cuma informasi saja, tapi juga semacam motivasi dan inspirasi bagi newbie seperti saya.

kesimpulan dari solo trip ini menurut saya :
Keuntungan solo trip : Lebih santai dan bebas atur trip semau kita, jadwal lebih fleksibel, gak ada drama berantem atau bête-betean dengan travel mate, lebih bisa menghargai diri sendiri, bisa memaksimalkan kemampuan diri sendiri, lebih fokus, terlatih untuk bisa memecahkan masalah yang dihadapi dan mencari solusi dengan cepat, bisa menerima setiap keadaan yang terjadi, mensyukurinya, dan mengambil hikmahnya. Dan yang pasti jadi lebih mandiri.

Satu hal lagi, saya jadi lebih pede terutama ketika harus berkomunikasi dengan orang lain, secara kan English saya kacau, kalau ada teman saya biasanya malu buat ngobrol sm orang lain, tapi kalau sendiri saya lebih pede toh kalaupun salah2 ngomong gak ada yang ngeliatin.

Gak enaknya solo trip : repot pas mau foto-foto, walaupun udah bawa mini tripod kadang gak bisa dipakai misal pas angin kencang atau tempat agak rawan dan terlalu crowded misalnya di Paris mesti hati-hati di sini takut hp nya digondol copet. Ketika butuh ke toilet juga kadang ribet karena gak ada yang bantuin jaga barang bawaan. Beberapa pengeluaran lebih mahal karena gak bisa share misalnya taksi dan kamar hotel. Sesekali pernah juga ngerasa kesepian dan baper karena sendirian terutama ketika udah capek dan di mana-mana isinya couple berseliweran. Tapi lebih banyak enaknya daripada enggak enaknya sih :D
Lalu apakah perjalanan saya mulus dan lancar-lancar saja? Tentu saja tidak.. ada beberapa drama mulai dari persiapan maupun saat trip. Tapiiii, drama-drama itulah yang justru bikin manis, bikin trip ini jadi berkesan.. kalo semuanya lancar-lancar aja kan kurang seru malahan 💃💃💃

Berikut saya share detil perjalanan saya termasuk itin dan budget.
Persiapan
Yang pertama saya siapkan adalah visa, ada dua visa yaitu visa Schengen dan visa UAE karena saya ambil transit 23 jam di Dubai. Saya sempat apply visa schengen 2 kali, yaitu pertama via France dapat multiple 3 bulan, serta via Netherlands Alhamdulillah dapat multiple 1 tahun (ini terharu banget mengingat history travelling saya yang sangat minim serta paspor masih kosong Cuma ada visa France yang batal dipakai). Untuk visa UAE saya pilih visa transit 48H, apply langsung di website Emirates, persyaratannya gampang, sebenarnya visanya gratis tapi ada fee untuk VFS sebesar 25 USD.
Selanjutnya persiapan itinerary. Ini adalah bagian yang berat bagi saya, walaupun tidak seberat persiapan mental. Setelah revisi itin berkali-kali, dengan pertimbangan waktu trip yang terbatas serta tiket landing dan pulang dari Amsterdam, akhirnya diputuskan itin final dengan rute yang lumayan mudah untuk pemula yaitu Amsterdam – Bruges – Ghent – Paris – Strasbourg – Zurich – Amsterdam. Walaupun pada akhirnya ada perubahan rute. Untuk itin dalam kota gak sempat nyiapin karena gak sempat.
Untuk transportasi antar kota semuanya menggunakan flixbus kecuali Bruges-Ghent menggunakan kereta. Pilihan menggunakan flixbus ini karena pilihan jadwalnya lumayan banyak, tiket lumayan terjangkau, serta busnya nyaman dan bersih. Kebanyakan Saya ambil bus malam karena untuk menghemat waktu sekaligus menghemat penginapan. Tiket Flixbus saya booking dari aplikasinya langsung.
Selanjutnya yaitu penginapan, booking penginapan ini lumayan menguras waktu karena itin yang berubah beberapa kali serta saya punya beberapa pertimbangan dalam memilih penginapan, di antaranya : wajib ada dapur, luggage storage, lokasi strategis, bersih, review bagus, dan tentu saja harga terjangkau. Selama trip ini saya menggunakan hotel 3 malam, hostel (dorm) 3 malam, dan airbnb 1 malam.
Hari H
# Makanan dan obat-obatan
Untuk makanan saya tidak terlalu banyak pengeluaran karena saya bawa beberapa bekal dari Indonesia, antar lain : beras (saya beli sejenis nasi uduk/nasi liwet instan kemasan, praktis sudah ada bumbunya, 1 bungkus bisa untuk 2-3 kali masak), rendang (kering dan basah), teri, dan bakso instan cup, serta bahan minuman (kopi,teh,coklat,dll). Obat-obatan : tolak angin, jahe instant, vitamin, madu, obat maag, dan paracetamol. Untuk masak nasi saya bawa panci plastik merk d*iso yg bisa untuk masak nasi di microwave.

# Uang, ATM, Kurs
Sebagian besar pengeluaran dan transaksi menggunakan CC BCA Visa, Debit BCA Mastercard, dan CC BNI Visa. Perbedaan rate (euro) antara 2 bank ini ternyata sangat jauh, rate BCA (debit dan cc) berkisar antar 15.700-15.800an sedangkan BNI di angka 16.200-16.500an. Saya gak terlalu banyak transaksi pakai uang cash, dari Indonesia hanya bawa €100 (tukar di money changer T3 Soeta, rate 15.900an) dan pulang masih sisa sekitar €30. Saya gak pernah tarik tunai di ATM, pernah sekali coba mau tarik tunai kartu jenius kena fee 40rb, gak jadi deh.
#Dokumentasi
Semua dokumentasi hanya menggunakan kamera hp biasa, foto sendiri dengan alat bantu mini tripod yang ada remote Bluetooth nya, Tapi tripod ini gak selalu bisa dipakai, misalnya ketika angin kencang, tripodnya kecil dan ringkih banget, kena agin dikit langsung roboh.

Berikut detil perjalanan saya berserta review penginapan:
19 Sept 2019 -> Perjalanan dari daerah ke Jakarta
20 Sept 2019 / Dubai
Perjalanan dari Jakarta ke Dubai, relative lancar, walaupun sebelumnya antrean di counter check in sempat mengular panjang karena check ini baru dibuka sekitar 2 jam sebelum penerbangan. Ini adalah long flight pertama saya, walaupun gak long long amat sih hanya sekitar 7 jam, sekitar setengah jam dalam pesawat saya langsung molor sampai diskip gak ditawari snack & minum, sempat kehausan banget, mau minta minum bingung dan malu gak tau caranya hahaa iya cupu banget saya. Landing di Dubai sekitar jam 6 pagi, excited akhirnya bisa sampai ke Dubai, dari dulu penasaran sama Kota yang serba mewah ini. Airport dubai sangat nyaman, lama-lama di sini pun gak akan bosan, bisa keliling-keliling belanja atau Cuma cuci mata, banyak spot buat istirahat/tidur, free wifi kencang, shower room banyak, ada beberapa dispenser air panas (bawaannya pengen bikin pop mie aja, sayangnya kemaren gak bawa). Semua proses imigrasi lancar. Sekitar jam 10 baru keluar airport, langsung keliling sekitaran Dubai, Sharjah, dan Ajman. Gak terlalu banyak explore atau berhenti karena gak kuat suhunya panas banget mencapai 46˚C, padahal awalnya semangat banget pengen ikutan safari desert, tapi karena suhu di gurun mencapai 50˚C, akhirnya batalin rencana ini, takut mateng di gurun nanti. Oh ya saya keliling2 ditemani oleh teman dari couchsurfing, ini pengalaman pertama kali pakai CS, syukurlah dapat host yang baik banget, saya gak nginap di tempat host karena sudah booking hotel. Saya menginap di Hotel Marcopolo, dapat harga promo dr travel*ka murah banget untuk ukuran bintang 4 di Dubai, lokasi gak terlalu jauh dari bandara, kamar bersih dan luas, resepsionis baik banget mau bantuin ngeprint dokumen dan minjemin computer. Minusnya, tanpa bermaksud rasis, tamu hotel ini didominasi oleh salah satu etnis ,ketika mulai masuk lobby bau semacam bunga2 atau rempah2 atau dupa dan sesaji sangat menyengat, serta berisik. Tapi itu Cuma di lobby, kalau di kamar gak ada bau-bauan atau suara berisik.
21-22 Sept 2019 / Amsterdam
Perjalanan dari Dubai menuju Amsterdam. Landing di Amsterdam jam setengah sepuluh pagi, antrean imigrasi lumayan lama dan panjang. Sempat deg-degan karena satu hari sebelumnya teman yang landing di Amsterdam juga sempat diinterogasi lama, termasuk beberapa orang di depan saya juga ditanya-tanyain lama. Pas tiba giliran, saya pasang muka pura-pura santai padahal nervous banget, semua dokumen tiket pp, booking hotel, tiket bus udah saya siapin. Ternyata sebentar banget, sekitar 2 menit, cuma ditanya mau ngapain? Liburan. Sama siapa? Sendiri. Ada booking hotel? Kasih segepok dokumen, Cuma dilihat sekilas,langsung cap, padahal sempat takut karena gak ada bookingan hotel untuk hari ini karena memang menginap di rumah orang bukan di hotel.
Selanjutnya ambil bagasi, yap.. roda koper tinggal tiga.. karena saat itu kepala pusing banget, kalo berdiri keliyengan rasanya goyang kayak lagi gempa, jadinya gak bisa berpikir jernih, gak kepikiran sama sekali buat klaim ke maskapai ataupun ke asuransi, jadinya sambil keliyengan geret2 koper naik turun tangga, naik kereta dan tram, serta jalan kaki menuju penginapan di daerah Albert Cuypstraat. Oh ya saya menginap di rumah orang Indonesia yang stay di Amsterdam, orangnya baik banget, lokasi rumahnya asik, keluar rumah langsung pasar Albert Cuypstraat, kalau mau kontaknya bisa inbox ke saya.
Sampai hari kedua di Belanda ternyata kepala masih pusing. Akhirnya gak kemana-mana. Padahal rencanya mau ke keliling2 wisata seputaran Amterdam, dan hari kedua mau ke Giethoorn. Jadinya di Amsterdam hanya keliling sebentar di sekitar Centraal dan keliling naik tram tanpa tujuan cuma buat numpang istirahat, lumayan daripada mubazir udah terlanjut beli travel pass buat 2 hari. Malam harinya menuju Sloterdijk untuk naik flixbus menuju Bruges, pas banget mau berangkat hujan deras…ditungguin hamper 1 jam ak juga reda.. akhirnya terpaksa pesan uber daripada ketinggalan bus.
23 Sept 2019 / Bruges
Jam 8 pagi sampai di Bruges, di sini flixbusnya gak punya halte khusus, turunnya di hamparan parkiran luas tanpa bangunan.. Di sini saya nge-blank banget.. ini pertama kali dalam kondisi seperti ini.. turun dari bus di tempat yang gak dikenal sama sekali, kaget cuaca ternyata dingin banget, suhu 8 ˚C dan anginnya kencang banget plus gerimis, gak persiapan pakaian khusus karena sebelumnya di Amsterdam suhunya gak beda jauh dari daerah saya. Di sini saya kebingungan, disorientasi arah.. 🥶🥶🥶rencana mau langsung ke penginapan, ternyata kalau jalan kaki masih lumayan jauh saya gak sanggup. Mau naik tram dari stasiun tapi gak tau stasiunnya yang mana, buka google maps rutenya diputar2in jauh banget gak masuk akal, di sini sepi banget pula gak ada orang yang bisa ditanyain. Karena udah gak kuat kedinginan diam di tempat akhirnya jalan kaki nyari jalan raya terdekat, udah hampir putus asa mau naik taksi aja.. di sini gak ada uber, dan ternyata di jalan raya pun gak ada taksi lewat… Makin panik dong, pengen nangis rasanya.. sampai akhirnya ada anak kuliahan lewat sambil senyum, akhirnya nyoba tanya ke dia tempat nunggu taksi.. disaranin naik bus/tram aja dari stasiun, dan dia baik banget dong, diantarin sampai ke stasiun padahal tujuan dia gak searah, dibantuin angkat koper pula, disini saya merasa terharu banget, bersyukur.. datang pertolongan di saat sangat sangat dibutuhkan.. 😢
Di Bruges saya menginap di Hostel Lybeer, kamar female dorm 4 beds, lokasinya strategis di center dekat dengan lokasi wisata. Suasana hostelnya menyenangkan, staf ramah dan baik, dapur bersih, disediakan free teh, kopi, dan susu, luggage room gratis. Minusnya gak ada lift dan kamar mandi terbatas, tapi ada kamar mandi yang agak tersembunyi, ini sebenarnya kamar mandi untuk kamar private room, tapi karena sepi  tamu lain jarang yang tau dan kamar mandinya paling bersih jadi saya selalu pakai kamar mandi di sini. Saya sampai di hostel jam 9 pagi, belum bisa check in tapi sudah bisa nitip barang, mandi, masak, makan, dan istirahat di lobby.
Saya mengexplore Bruges siang sampai sore, tanpa itin dan tujuan tertentu, saya hanya berjalan kaki menyusuri kota, semua tempat cantik, semua tempat bagi saya adalah objek wisata, sore hari lagi-lagi saya berkeliling naik tram tanpa tujuan karena sudah terlanjur beli tiket harian sayang kalau tidak dimaksimalkan, sampai ke pinggiran kota dan permukiman penduduk, semuanya cantik..
24 Sept 2019 / Ghent
Pagi ini Bruges diguyur hujan, ditunggu sampai siang hujannya gak juga reda, akhirnya terpaksa naksi lagi ke stasiun, Sampai stasiun langsung beli tiket kereta menuju Ghent, jadwal keretanya banyak jadi gak perlu takut kehabisan tiket, harga tiket kelas 2 €6.6. Perjalanan dari Bruges ke Ghent memakan waktu sekitar 20 menit. Sampai di Ghent jam 3 sore ternyata masih hujan deras. Di Ghent saya menginap di Uppelink hostel, terpaksa ambil mixed dorm 12 beds karena female dorm full, awalnya sempat takut kalo saya satu-satunya cewek di room itu, ternyata ada beberapa cewek lain, lega jadinya. Suka banget sama hostel ini, lokasinya strategis banget di center, tepat di samping Saint Michael’s Bridge, dekat dengan halte stram dan bus, staf hostel ramah, dapur bersih dan sepi bisa pakai sepuasnya, dan dapat kamar yang viewnya luar biasa keren.
Jam 6 sore hujan baru reda, saya keliling explore Ghent sampai malam, untungnya keluar hotel sudah langsung situs wisata semua, bangunan-bangunan tua yang sangat cantik, lokasinya saling berdekatan, jadi walaupun waktu sangat terbatas tapi lumayanlah banyak tempat yang bisa didatangi. Saya hanya bisa explore Ghent hari ini karena sudah terlanjur beli tiket bus ke Paris besoknya jam 10 pagi, males ribet lagi kalau mau reschedule jadwal.
25-26 Sept 2019 / Paris
Lagi-lagi terpaksa naik taksi dari penginapan ke halte flixbus karena terlalu santai menikmati sarapan, lupa waktu ternyata udah hampir jam 10. Ternyata naik taksi adalah keputusan yang sangat tepat, begitu sampai pool flixbus 1 menit kemudian bus berangkat, lagipula ini pool busnya lebih antah barantah daripada di Bruges, di tanah lapang jauh dari mana-mana gak ada sign apa-apa, sebenarnya posisinya ini di dekat Stasiun Gent Dampoort, tapi gak bisa dibilang dekat juga kalo jalan kaki, seandainya tadi kesini naik tram kemungkinan besar saya akan nyasar dan mesti jalan kaki geret2 koper jauh banget, dan pasti bakal ketinggalan bus.
Sampai di Paris jam 3 sore, langsung menuju penginapan, The People Hostel. Voila ini favorit saya, kalau ke Paris lagi bakalan nginap di sini lagi. Lokasi sangat strategis, di seberang stasiun metro Dugommier (1 stop dari Bercy Seine), dekat dari supermarket monoprix, hostelnya bersiiiiih banget, staf sangat ramah dan helfull, dapur oke, ada lift, free luggage storage, ada kamar mandi dan toilet di masing-masing room, dan bednya pakai tirai jadi meskipun dorm tapi privasi tetap terjaga.
Hari pertama di Paris semuanya berjalan lancar walaupun agak bête karena hujan  pas malamnya jadi gak bisa explore maksimal. Di pintu masuk Louvre tas ransel saya sempat dibuka copet, tapi dia gak ambil apa-apa karena semua barang-barang penting sudah saya pisahkan di tas gantung di leher depan dan selalu saya kekep kalo lagi di keramaian.
Hari kedua di Paris semuanya masih lancar, hanya sedikit terganggu angin kencang karena gak bisa ambil foto, mini tripodnya selalu roboh ketiup angin.
Namun kemudian.. satu insiden mengacaukan banyak hal…
Saya ketinggalan bus menuju Kota selanjutnya yaitu Strasbourg, ketinggalannya bukan karena terlambat sampai stasiun, tapi karena hal lain (kenapa bisa ketinggalan bus ini ceritanya panjang banget). Seharusnya saya berangkat dari Paris Tanggal 26 Sept jam 10 malam dan sampai di Strasbourg jam 8 pagi. Penginapan di Strasbourg sudah dipesan dan tidak bisa dibatalkan lagi.. Oke saya panik. Jam 10 malam, sendirian, terdampar di terminal bus di Paris, gak punya teman atau kenalan yang bisa ditumpangi, gak punya bookingan hotel, kalaupun booking dadakan pasti mahal dan ribet harus cari lokasinya di mana, mesti keluar extra cost buat bayar taksi, mau tidur di terminal juga gak memungkinkan. Cek harga tiket kereta,harganya sudah gak manusiawi, udah jauh di atas 100e L cari bus lain yang rute sama atau mendekati pun semuanya sudah full.. Waktu berlalu sampai jam 1 pagi saya masih belum dapat solusi.. kemudian saya putuskan harus cari rute alternative menuju Strasbourg dengan bus yang berangkat sesegera mungkin yang harganya masih masuk akal. Satu-satunya pilihan adalah bus Paris-Lille berangkat jam 3 pagi, lanjut Lille-Strasbourg tiba jam 5 sore.. Yup rute yang cukup “crazy” dan harus menghabiskan waktu seharian dalam bus, tapi ini opsi terbaik dan terhemat yang ada.. Tapi saya sangat menikmati perjalanan ini, sama sekali tidak melelahkan atau membosankan, dan saya bisa molor sepanjang perjalanan :D
27-28 Sept 2019 / Strasbourg
Sampai di penginapan Strasbourg sekitar jam 6 sore, saya menginap di City Residence Strasbourg Centre. Saya suka banget hotelnya, kamarnya luas dan bersih, kamar mandi luas ada bathtubnya, dan yang paling penting fasilitas dalam kamar lengkap banget mulai dari sofa, lemari, kulkas, kompor listrik, microware, peralatan masak, dan peralatan makan, dan hal penting lain yaitu free luggage room. Yang saya kurang suka hanya satu hal, lokasinya agak jauh dari halte tram dan pusat kota (sebenernya gak jauh-jauh banget, gak sampai 1km, tapi kalo udah capek dan udah malam berasa jauh banget). Setelah bersih-bersih karena udah 2 hari gak mandi, baru keluar hotel jam 8 malam.. dan ternyata sudah sepi banget, udah gak ada orang seliweran, rencana mau belanja bahan makanan di Carrefour, ternyata juga udah tutup. Setelah jalan jauh kea rah stasiun kereta akhirnya nemu banyak tempat makan halal, lokasinya di seberang stasiun. Makanannya enak dan murah, sampai beli take away buat makan besok.
Tanggal 28 sept kalau gak ada insiden ketinggalan bus, seharusnya rute hari ini adalah menuju Zurich day trip aja, lalu malamnya naik flixbus menuju Roermond. Akhirnya rute ini dibatalkan, jadi hari ini bisa fokus seharian keliling Strasbourg, malamnya langsung naik bus ke Roermond. Oke Strasbourg ini sebenarnya cantik banget, tapi saya kurang menikmati karena mood kurang bagus, udah mulai agak bosan sendirian terus, ngeliat couple di mana-mana kan bikin baper juga, dan di sini banyak outlet yang lagi sale, jadinya lebih tertarik buat shopping. Wisata yang sempat didatangi antara lain Petite France, Cathedral Notre Dame Strasbourg, Place Kleber, dan masih banyak yang lain tapi gak ingat namanya karena memang Cuma sekilas sambil lewat.
Balik hotel sekitar jam 9 malam buat ambil koper, ini sebenernya posisinya saya sudah check out dari jam 11 pagi, tapi masih dibolehin dong numpang bersih2 di toilet, numpang sholat (di luggage room, luas dan bersih), dan nunggu di lobby sampai jam setengah 1 pagi, karena jadwal bus ke Roermond jam 1 pagi. Dari hotel ke halte flixbus harus pakai taksi karena tengah malam, asli tarif taksi di sini gila banget, termahal kalo dibanding di kota sebelumnya, untuk jarak 2km tanpa macet sama sekali kena €15.5 dong, bergetar rasanya ginjalku tiap ngeliat argo geraknya cepet banget.
29-30 Sept 2019 / Roermond - Amsterdam
Flixbus dari Strasbourg ke Roermond harus transit dulu 2 jam di Cologne South jam 5 pagi, udah sempat takut sih transit 2 jam pagi-pagi banget, secara beberapa halte sebelumnnya Cuma di hamparan outdoor, gak kebayang dingginnya belum lagi kalau hujan, syukurnya ternyata di Cologne South haltenya bener2 di bandaranya, jadi bisa nunggu di dalam bandara, dan yang penting bisa bersih-bersih dulu di toilet dan numpang sarapan. Dari Cologne ke Roermond ini akhirnya ketemu satu-satunya supir bus yang galak banget, sebelumnya 5 kali gak ada ketemu supir model gini, dia maksain ranselku masuk bagasi bawah bareng koper, padahal itu ransel gak terlalu gede udah sesuai spek kabin flix, supirnya marah-marah sambil ngomel pake bahasa German gara-gara saya protes gak mau taroh ransel di kabin. Sampai di Roermond jam 10 pagi, pemberhentian bus langsung di sebelah designer outlet Roermond, sebelum keliling belanja saya titip barang dulu di locker, lokasinya di bagian informasi, tarifnya €5 untuk seharian. Jam 5 naik flixbus lagi ke Amsterdam, sampai jam 8 malam. Saya menginap di Hotel Meininger City West (tepat si sebelah Stasiun Sloterdijk), saya ambil kamar single room, ternyata bener-bener single.. kecil banget maksudnya, tapi cukuplah sekedar buat tidur semalam. Hotel Meininger ini sepertinya termasuk salah satu favorit orang Indonesia, paling sering direkomendasikan di forum BI, termasuk ketika antre check in di lobby saya ketemu serombongan tamu dari dari Indonesia. Saya sendiri kurang suka dengan hotel ini karena suasanya terlalu crowded terutama di lobby dan dapur/ruang makan mungkin karena terlalu banyak tamu, lokasinya juga lumayan jauh dari Centraal (karena rute tujuan saya adalah sekitaran central, jadi tidak efektif saya ambil penginapan di sini), dan yang paling tidak saya suka adalah gak ada free luggage room nya,adanya loker berbayar dan jumlahnya terbatas. Poin plusnya adalah hotel ini menyediakan dapur yang bisa dipakai walaupun kita sudah check out karena lokasinya satu lantai dengan lobby. Dapurnya sendiri lumayan sempit dan sangat crowded terutama malam hari.
Tanggal 30 Sept, hari ini jadwal pesawat balik ke Indonesia.. jadwal pesawat jam 10 malam, jadi masih ada waktu buat beberapa urusan. Sayangnya, saya jatuh di tangga stasiun Sloterdijk karena buru-buru dan kurang fokus, kaki kiri terkilir dan bengkak, kaki kanan memar, bingung mau cari tukang urut kemana. Akhirnya Cuma saya kompres air hangat sebentar, tapi gak terlalu ngaruh. Di bandara saya jalan terseok-seok karena makin sakit, dan selama di dalam pesawat makin sakit...
Ohya sebelum check in pesawat saya urus tax refund dulu di counter global blue, prosesnya sangat cepat, kebetulan kemaren gak pake antre.. cuma ditanyain barang yang dibeli tapi gak sampai disuruh tunjukkan atau bongkar koper..
1 Okt 2019
Alhamdulillah landing di Jakarta dengan selamat jam 10 malam. Antre imigrasi, bagasi, dan custom lumayan lama, baru bisa keluar bandara jam 12 malam. Sebelum lanjut penerbangan domestic besok pagi saya menginap di Zest Hotel Airport, sekitar 15 menit dari terminal 3, hotelnya menyediakan free shuttle bus 24 jam, kamar dan sarapan lumayan enak.
REKAP PENGELUARAN :
Tiket Pesawat PP JKT-AMS 5,590,000
Visa Schengen 1,800,000
Visa transit UAE 368.549
Asuransi (Zurich) 578,000
Transportasi antar kota 1,645,852
Penginapan 3,873,612
Transportasi dalam kota 1,771,741
Makan 1,190,907
City tax 245,356
Locker 190,126
Simcard 3(4GB) 250,000
TOTAL pengeluaran Trip West Europe + Dubai :
Rp 17,504,133

***Kalau ada yang butuh gambaran pengeluaran per hari, saya sertakan rincian pengeluaran di foto terkahir, sila dicek :)
Sekian share Saya, dokumentasi, info tiap kota, dan detail lain bisa cek di IG : @naaaliiin

#TRAVELINA2019

0 Response to "Share Biaya Liburan Solo Trip Backpacker ke Eropa Barat dan Dubai"

Posting Komentar