Aku Jadi Budak Istriku (Cerita: Drama, Thriller)

Istri: "Kok, cuma segini gajimu, Bang? Yang lainnya mana?"

Aku: "Masih di ATM. Abang ambil seperlunya aja. Untuk apa nyimpan uang di rumah? Kan lebih aman di sana."

Istri: "Maksud Abang apa? Abang enggak percaya lagi sama aku?"

Aku: "Bukan enggak percaya. Ini ATM, ini buku tabungan, pegang sendiri."

Istri: "Pin-nya mana?"

Aku: "Untuk apa? Kalau ada perlu, tinggal bilang. Nanti kita ambil sama-sama. Aku juga enggak akan bisa ngambil kok?"

Istri: "Pokoknya aku enggak mau. Ini slip gaji, berapa jumlah di situ. Bawa kemari semua. Biar kupegang sendiri. Lagipula Curiga-an amat jadi suami! Kalau udah enggak percaya bilang! Enggak usah cari alasan kayak gini."

Yah. Inilah akhirnya. Setiap kali kucoba ikut andil mengatur keuangan rumah tangga kami yang terlihat mulai berantakan. Bagaimana tidak? Gaji yang besar bukannya mendatangkan kebahagiaan, malah sebaliknya. Entah raib kemana, enam juta setiap bulan tidak cukup untuk menutupi kebutuhan keluargaku.

Kemana uang kami? Seakan tidak wajar habis dalam sebulan, sementara kami tidak punya kredit apa pun. Hanya untuk makan juga biaya sekolah dua orang putriku yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, setiap kutanya, selalu ancaman yang dia ucapkan.

Seperti bulan yang lalu. Seminggu sebelum gajian, kami sudah tidak punya apa-apa lagi di dapur. Hanya tinggal beras juga gula sekilo yang terlihat. Kuajak belanja, alasannya uang sudah tidak ada.

Istri: "Enggak percaya amat jadi suami. Bukankah uang suami itu uang istri. Kalau udah dikasih, ya udahlah. Ngapain lagi ditanya? Toh semua juga untuk keperluan keluarga ini juga, 'kan?"

####

Beberapa waktu berjalan, aku masih mencoba bersabar. Dua putri kecil yang masih membutuhkan kasih sayang kami yang selalu menjadi alasan untuk tetap mempertahankan rumah tanggaku.

Namun, hari ini aku disentakkan oleh dua buah pesan masuk di hape ibu kedua putriku ini. Diri terasa seperti orang bodoh. Pikiranku langsung membayang ke wajah kedua orang tuaku. Bagaimana tidak? Lima tahun berpisah, belum pernah sekalipun mengirimkan apa-apa kepada mereka. Sementara pesan yang masuk sangat jelas, istriku membiayai kedua adiknya yang saat ini kuliah.

{Kak, belanjaku udah habis. Laptop yang kakak suruh pesan kemarin juga udah datang. DP-nya satu juta. Cepetan ya, Kak. Kirimkan duitnya.}

Begitu juga isi pesan yang kedua, datang dari adiknya yang bungsu juga sedang menunggu kiriman bulanan.

####


Istri: "Abang mau cendol, Bang? Sebelum pigi itu."

Seperti dugaanku, dia akan berubah baik sore ini. mungkin karena pesan yang baru masuk, jadi berusaha mengambil kesempatan mengalihkan perhatianku.

Aku: "Ya udah beli aja. Tahu aja kemauan suami."

Istri: "Iya, dong. Istri siapa dulu?" sahutnya sambil bergegas keluar, selang beberapa menit wanita itu sudah kembali bersama semangkok es cendol di tangannya.

Istri: "Ini nah, satu aja berdua biar mesra. Abang enggak kemana-mana, 'kan?" tanyanya lagi sambil masuk kamar. Ia meraih sebuah bungkusan lalu memasukkan kedalam tempat penyimpanan paling amannya.

Aku: "Enggak, lagi pula udah capek. Memangnya kenapa?" tanyaku.

Istri: "Mau pakai motor bentar, beli cabe," ujarnya sambil mengangkat mangkuk yang tinggal berisi separuh. Sekejap saja, langsung mengisi perut buncitnya.

Aku: "O oh. Itu kunci, tergantung dekat pintu. Hati-hati!"

Istri: "Iya deh, Sayang. Adek jalan dulu, ya. Da da sayang!"

Seperti biasa kalau lagi bahagia. Dia pasti akan meninggalkan satu kecupan sebelum berangkat. Tapi kali ini mungkin kecupan terakhir.

Aku beranjak meraih mangkuk yang kini kosong. Membuang sejauh mungkin, bersamanya yang akan pergi jauh. Jauh sejauh-jauhnya. Tinggal menunggu kabar saja.

Selesai. 29112019.

Sumber: FB, Dian.

0 Response to "Aku Jadi Budak Istriku (Cerita: Drama, Thriller)"

Posting Komentar