ASLI SERU, Cerita: Kujandakan Istriku Demi Mengistrikan Jandaku


Namaku Komarudin Kahaniya. Dulu aku pria mesakat bin melarat. Hingga akhirnya aku taubat dan menjadi konglomerat.

Aku bisa apa? Tuhan sudah berkehendak.

Seiring dengan kekayaanku yang berlaci-laci, menggiring pula keinginanku berbini lagi. Bukankah selera itu ikut meningkat seiring dengan ekonomi yang berkembang pesat?

Tahan. Jangan dulu menghujat.

Ini atas dasar sebab, bukan murni tabiat.

Berharap setiap perempuan yang membaca, bisa merasakan penderitaan seorang pria yang dipaksa menuruti hawa nafsunya.

gambar hanya pemanis

Pagi itu, aku memberikan sejumlah uang kepada Maemunah istriku, kuminta ia merawat tubuhnya yang kuyu juga memoles wajahnya yang layu.

"Abang sekarang berubah. Mulai tak menerimaku apa adanya." Itu yang terucap dari bibir hitamnya.

Aku menghela nafas.

"Aku hanya ingin kau terlihat cantik, Mun," jawabku padanya.

"Kenapa baru sekarang? Abang terobsesi dengan perempuan-perempuan cantik ditempat kerja Abang? Iya kan?" cecarnya padaku.

Aku tertunduk lesu. Apa perempuan memang selalu seperti ini? Curiga kepada kami? Mahkluk terseksi yang bernama laki-laki?

"Kau ingin tau alasannya, Mun? KARENA EKONOMI ABANG SEKARANG SUDAH MEMBAIK. APA ABANG SALAH KALAU ABANG INGIN MEMBERIKAN YANG TERBAIK?"

Nada bicaraku meninggi. Tanda kalau aku mulai tersulut emosi.

"Ya sudah Abang, kasih Muna mentahannya saja. Biar nanti Muna yang atur. "

Aku membiarkannya berangkat sendiri. Muna bilang dia sedang tak ingin kutemani.

Biarlah. Mungkin, dia butuh kebebasan untuk menghabiskan sejumlah uang yang tadi aku berikan.

Harap-harap cemas aku seharian. Tak sabar bertatap muka dengan bidadari rumahanku, ucapan Gombloh salah seorang sopirku kembali memenuhi area gendang telingaku. "Bos, bawa saja Nyonya ke Salon Mantili, di sana ada berbagai macam perawatan kecantikan yang hasilnya sangat luar biasa."

Aku mengernyitkan dahi. "Luar biasa? Seperti apa, Mbloh?"

"Salon itu memakai Ajian malih rupa, oplas muka tanpa menggunakan sayatan."

Aku tertarik.

"Apa bisa, Mbloh?"

"Bisa, Bos. Ajian itu kan untuk membuka aura, merelaksasikan fikiran agar pemiliknya bisa merasa bahagia."

"Boleh juga, Mbloh. Berapa tarifnya?"

"Sepuluh juta, Bos. Untuk setiap kali perawatan."

Aku bersemangat.

"Tak masalah!" aku menjawab, tegas.

Mengingat itu, aku semakin penasaran. Seperti apa nanti rupa Maemunahku, wanita yang telah sembilan tahun rela kususahkan itu?

.

Malam beranjak.

Deru mobil menandakan Memunahku telah datang.

Aku bangkit lalu berdiri.

Kulihat Maemunah masuk rumah dengan sedikit ragu.

"Mun? Kenapa?" aku bertanya.

Dia terlihat semakin canggung.

Kulihat wajahnya, masih sama. Mirip ikan koki yang digoreng hidup-hidup.

Kudekati dirinya. Aroma tubuhnya pun masih tak ada beda. Mirip ikan kakap yang digoreng minyak jelantah.

Kenapa dia tidak wangi? Seperti yang diucapkan Gombloh, kalau wanita yang datang ke salon kecantikan itu, akan memiliki aroma tubuh yang menguar, harum ratus menyebar.

Hingga gelang besar melingkar di pergelangan tangannya memberikanku sebuah jawaban.

"Maaf, Abang. Sayang kalau uangnya dibuat perawatan kecantikan. Mending Muna belikan perhiasan. Bisa menjadi tabungan dan bermanfaat untuk masa depan. "

Aku menahan sebal, menunggu dia melanjutkan.

"Lagipula, Muna kan sudah punya Abang. Untuk apa Muna buang-buang uang buat perawatan?"

"Apa perhiasan yang Abang belikan masih kurang, Mun?" tanyaku sembari menahan geram.

"Bukan kurang Abang. Tapi kan eman uangnya kalau dihambur-hamburkan. Lebih baik Muna rupakan emas-emasan supaya bisa diuangkan kalau seumpama Abang kesulitan."

"Tak seharusnya kau berfikir seperti itu, Mun. Dengan mengatakan itu sama halnya kau mendahului takdir yang belum tentu terjadi buruk seperti yang kau takutkan itu."

"Tapi, Bang ...."

"Sudahlah! TERSERAH KAU SAJA!"

Aku menarik nafas jengah.

Aku hanya menginginkan istriku cantik dan terawat. Salahkah aku? Meski keinginan itu timbul begitu saja sejak aku sering melihat seorang Maya, wanita muda berstatus janda, di suatu tempat secara tak sengaja.

Bersambung...

Oleh: Nyai Dewi Nilam Sari (FB).

0 Response to "ASLI SERU, Cerita: Kujandakan Istriku Demi Mengistrikan Jandaku"

Posting Komentar